Senin, 01 Desember 2014

PATOLOGI VETERINER SISTEMIK - PATOLOGI SISTEM REPRODUKSI HEWAN

PATOLOGI SISTEM REPRODUKSI HEWAN

Drh. I Ketut Eli Supartika, M.Sc., APVet

Balai Besar Veteriner Denpasar
Jl Raya Sesetan No. 266, Denpasar, Bali


Pendahuluan

Sistem reproduksi sangat penting artinya bagi kelanjutan generasi hewan. Penyebab gangguan sistem reproduksi pada hewan sangat komplek (virus, bakteri, jamur, protozoa, tumor, hormonal, nutrisi, dll). Untuk itu penanganan kasus kegagalan reproduksi pada hewan mesti ditangani secara menyeluruh dari berbagai aspek baik aspek epidemiologi penyakit, gejala klinis, patologi dan  didukung oleh hasil  pemeriksaan laboratorium.

Pada tulisan ini dibahas secara ringkas gambaran patologi (Patologi Anatomi dan Histopatologi) sistem reproduksi hewan yang sering dijumpai pada kasus-kasus di lapangan untuk memudahkan diagnosa penyakit yang terkait dengan sistem reproduksi hewan

A. Patologi reproduksi hewan betina.

Alat kelamin primer : ovarium (membentuk ova dan hormon)
Alat kelamin skunder ( oviduk, uterus, servik, vagina, vulva)

1. Ovarium dan salpinx.

Radang pada ovarium (ovariitis) dan salpinx (salpingitis) disebabkan oleh  kuman yang bersirkulasi secara hematogen dan juga infeksi ikutan dari radang peritonium.

Kista ovari sering ditemukan pada sapi dan kuda. Kebanyakan kista ini bersifat kongenital dan juga akibat defisiensi nutrisi. Tangkai kista dapat membelit kolon sehingga dapat menimbulkan kolik. Di lain pihak, kista folikel yang menetap dapat menimbulkan nimfomania (perpanjangan estrus) misalnya pada sapi dan anjing. Kista semacam ini dapat  menimbulkan pyometra.

Salpingitis penting artinya bagi reproduksi hewan betina. Sebab salpingitis dapat mengakibatkan lumen oviduk tertutup sehingga ovum tidak sampai di uterus yang dapat mengakibatkan majir. Disamping itu eksudat radang pada salpinx dapat membunuh spermatozoa.

Berdasarkan jenis eksudatnya, salpingitis dapat dibedakan menjadi: salpingitis kataralis yang disebabkan oleh kuman stapilococcus dan streptococcus dan salpingitis purulenta (pyosalpinx) yang disebabkan oleh kuman pyogenes (pembentuk nanah). Gambaran patologi lain yang dijumpai pada salpinx adalah: hidrosalpinx yaitu kista yang terbentuk di dalam salpinx yang berisi cairan bening.



2. Uterus.

Torsio uteri: uterus terpuntir. Penyebabnya adalah penggantung uterus tidak kuat atau akibat isi lambung/usus yang berlebihan. Gambaran patologi anatomi  yang dijumpai pada torsio uteri adalah: terjadingan pembendungan/kongesti uterus yang sangat jelas terlihat. Mukosa uterus berwarna merah kehitaman dan membengkak. Bagian yang terpuntir sangat anemik. Bagian serosa juga berwarna merah kehitaman.

Ruptur uteri: penyebabnya adalah adanya kontraksi uterus yang sangat hebat, faktor mekanik, dan juga akibat distokia. Gambaran patologi anatomi ruptur uteri adalah: daerah serosa uterus terlihat suram kelabu kekuningan. Lumen uterus ditutupi oleh masa yang berwarna putih.

Metrorrhagia (perdarahan di dalam uterus). Penyebabnya adalah lesi traumatik pada saat hewan melahirkan.

Radang uterus.

Radang uterus dapat dibagi menjadi 4 bagian sesuai dengan lokasi lesi yaitu:

1.   Endometritis : bila radang dijumpai pada lamina mukosa sampai ke lamina propria.
2.   Metritis: bila radang uterus meluas sampai ke lamina muskularis.
3.   Perimetritis: bila radang dijumpai pada bagian serosa dan subserosa uterus.
4.   Parametritis : radang yang melibatkan uterus dan jaringan sekitarnya, terutama penggantung uterus.

Penyebab radang uterus dapat berupa kuman-kuman yang berasal dari bagian lain alat reproduksi (vagina, kandung kemih, dll), kuman komensal yang ditemukan di dalam uterus seperti: Streptococcus sp, kuman-kuman pyogenes. Perubahan hormonal, misalnya saat hewan birahi juga dapat menimbulkan peradangan pada uterus. Faktor mekanik sesudah beranak juga bisa menyebabkan radang uterus.

Gambaran patologi anatomi yang dapat diamati pada radang uterus adalah: uterus membengkak, selaput lendirnya berwarna kemerahan dan berisi eksudat. Sedangkan pada pengamatan mikroskopik (histopatologi) sel-sel radang dapat ditemukan pada lamina propria mukosa. Pada radang yang bersifat akut sela radang utamanya adalah sel-sel limfositik, sel plasma dan histiosit.

Diagnosa endometritis pada hewan yang masih hidup dapat dilakukan dengan pemeriksaan biopsi mukosa uterus secara : histopatologi dan bakteriologi.



3. Pyometra.

Yakni tertimbunnya nanah di dalam uterus yang disebabkan oleh flora normal yang hidup di uterus menjadi patogen akibat pengaruh hormonal. Pyometra sering dijumpai pada sapi dan anjing.

Gambaran patologi anatomi yang dijumpai pada kasus pyometra adalah: uterus terlihat menbengkak berisi banyak nanah pada mukosanya (tidak berbau), selaput lendir uterus sangat kasar karena terjadi hiperplasia pada lamina mukosa uterus. Secara histopatologi epitel mukosa uterus mengalami erosi, didalam mukosa banyak diinfiltrasi oleh sel-sel neutrofil dan limfosit.

Pyometra dapat menyebabkan kematian akibat infeksi sekunder dan juga askibat intoksikasi atau septisemia yang berasal dari uterus.

4. Tumor pada uterus.

Jarang ditemukan. Kadang-kadang ditemukan karsinoma pada dinding uterus.

5. Vagina dan vulva.

Kelainan-kelainan yang sering ditemukan pada vagina dan vulva adalah vaginitis yang disebabkan oleh berbagai hal antara lain:

1.   Traumatik sata partus. Nekrosis  akibat luka traumatik dapat menimbulkan radang yang meluas ke daerah sekitarnya bahkan dapat menimbulkan peritonitis. Hewan dapat mati karena mengalami peritonitis akibat resorpsi dari toksin.
2.  Vaginitis juga dapat disebabkan oleh kuman-kuman seperti: Brucella sp, Vibrio foetus, Trichomonas fetus.

Tumor pada vagina dan vulva.

Tumor yang sering dijumpai pada vagina dan vulva terutama pada anjing adalah venereal sarcoma. Tumor ini menyerang semua jenis ras anjing yang biasanya dijumpai pada anjing-anjing yang sudah dewasa. Tumor bersifat soliter atau multiple seperti bunga kol berupa nodul dengan ukuran kecil sampai beberapa cm yang dijumpai pada bagian posterior vagina. Secara histopatologi dijumpai sel-sel tumor berupa sel-sel limfositik berbentuk ovoid, polihedral. Bentuk dan ukuran sel sama (uniform). Tumor membentuk stroma. Gambaran mitosis sering dijumpai.


B. Patologi reproduksi hewan jantan.

1. Skrotum (kulit pembungkus testis)

Kulit skrotum lebih tipis dibandingkan dengan kulit tubuh lainnya. Radang pada skrotum (Dermatitis skrotalis) sering disebabkan oleh: Dermathopilus congolensis, jamur dan ektoparasit (eg. Chorioptes sp)

Tunika vaginalis merupakan lapisan dalam dari skrotum. Radang tunika vaginalis merupakan ikutan dari penyakit TBC, limfadenitis kaseosa, juga dapat disebabkan oleh penyakit Bruselosis, Trypanosomiasis (Surra), periorchitis dan epididimitis.




2. Penis dan prepusium.

Kastrasi yang terlalu dini dapat menyebabkan hipoplasia pada penis dan prepusium. Radang pada glands penis (balanitis), prepusium (postthitis), penis dan prepusium (balanoposthitis).

Penyebab balanoposthitis.

1. Herpes virus
2. Corynebacterium renale
3. Haemophilus sunnus
4. Fungi/Clamidia
5. Protozoa

Infectious Bovine Rhinotracheitis-Infectious Pustular Vulvovaginitis (IBR-IPV)/Herpes virus.

Gambaran patologi anatomi: penis dan prepusium terlihat membengkak, edema, akumulasi nanah berwarna putih kebiruan. Glands penis mengalami erosi dan ulserasi. Secara histopatologi: dijumpai nekrosis epitel disertai infiltrasi sel-sel neutrofil dan limfosit pada daerah radang.

Ulserativ posthitis.

Penyebabnya adalah akibat ekskresi urine yang kaya dengan kandungan urea disertai dengan infeksi kuman Corynebacterium renale. Secara makroskopik (PA) daerah radang terlihat berwarna kekuningan. Epidermis mengalami nekrosis disertai ulserasi. Pada infeksi skunder, prepusium nampak membengkak berisi urine dan nanah.

3. Tumor pada penis dan prepusium.

1.   Fibropapilloma pada sapi: menyerang glands penis sapi yang berumur antara 1-2 tahun. Tumor berbentuk multiple dengan diameter beberapa cm serta berwarna pink. Secara histopatologi gamabran mitosis sangat jelas terlihat.
2.   Squamus cell papilloma pada kuda: Tumor jinak. Daerah tumor mengalami keratinisasi. Sel tumor kebanyakan berupa sel-sel limfoplasmasitik.
3.   Venereal sarcoma pada anjing: tumor dijumpai pada bagian prepusium, bersifat multiple atau single dengan diameter beberapa cm. Secara histopatologi sel-sel tumor bentuknya polyhedral, uniform, dengan gambaran mitosis yang sangat jelas.


4. Testes.

Hipoplasia testes :

Dapat menimbulkan kemajiran. Salah satu testes atau keduanya lebih kecil dari normal dan terasa lebih keras. Tergantung pada derjata hipoplasianya, hewan yang mengalami hipoplasia testes masih dapat menurunkan keturunan walaupun vertilitasnya kurang.

Secara histopatologi hipoplasia testes dapat mengakibatkan terganggunya tubuli semeniferi, aspermatogenesis sehingga sperma tidak terbentuk. Tubuli semeniferi dilapisi oleh beberpa lapisan epitel lembaga.

Cryptorchyd:

Yaitu tidak turunnya testes ke rongga skrotum. Penyebabnya faktor keturunan. Bisa bersifat unilateral atau bilateral. Kebanyakan kasus bersifat unilateral. Kejadian cryptochyd berkisar antara 1-10%. Tempat terjadinya cryptorchyd mungkin di kanalis inguinalis atau subkutan pada cincin inguinalis eksternal. Secara patologi anatomi testes nampak kecil, konsistensinya keras. Secara histopatologi ditemukan adanya fibrosis dan hipoplasia pada tunika albugenia.

Orchitis:

Yaitu radang pada testes. Secara umum disebabkan oleh: Streptococcus sp, Spatphylococcus sp, Corynebacterium pyogenes, E. Coli.

Dapat diklasifikasikan menjadi:

1.   Orchitis interstisialis : gambaran PA tidak jelas, namun secara histopatologi terlihat adanya infiltrasi sel-sel limfosit pada buluh semeniferi, tubulus rekti dan duktus efferensia.
2.   Orchitis intertubuler : gambaran PA tidak jelas. Gambaran histopatologinya adalah terlihat adanya reaaksi granulomatosa dengan infiltrasi sel-sel neutrofil, limfosit dan sel-sel datia pada tubuli semeniferi. Sel Sartoli mengalami hiperplasia dan kalsifikasi.
3.   Orchitis nekrotikan. Penyebabnya adalah infeksi penyakit Brusellosis, traumatik, iskemia. Periorchitis yang bersifat kronis dapat menimbulkan gangguan suplai darah sehingga terjadi nekrosis. Secara histopatologi dijumpai adanya nekrosis koagulatif yang dibatasi oleh sel-sel fibroblas (fibrosis) dengan infiltrasi sel-sel limfosit.



DAFTAR PUSTAKA.

Acland, H. M. (1995). Reproduction System: Female; Male. In: Thomson’s Special Veterinary Pathology. 2nd Ed. Mosby-Year Book, Inc. 11830 Westline Industrial Drive. St. Louis, Missouri 63146. NY. pp. 512- 560. 


Jubb, K.V.F., Kennedy, P.C and Palmer, N. (1985). Pathology of Domestic Animals. 3rd Ed. Vol. 3. Academic Press, Inc.1250 Sixth Avenue, San Diego, California 92101. pp. 306-459.
Posting Komentar